Khabar.id – Situasi pandemi Covid-19 tak menjadi halangan bagi Tim Dosen Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) untuk tetap menjalankan rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Kondisi Covid-19 yang berlangsung sejak 8 bulan terakhir mengakibatkan dampak yang signifikan bagi perekonomian masyarakat. Salah satunya masyarakat desa Pandan Arang Kandis Kabupaten Ogan Ilir (OI) Sumatera Selatan yang terdampak ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Namun berkat gerak cepat Tim Dosen Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) melalui program kegiatan “Narasi Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat” dirasa cukup membantu masyarakat desa Pandang Arang Kandis dalam memulihkan perekonomian masyarakat dengan memberikan penyuluhan terkait penerapan teknologi budidaya ikan lele dengan system bioflok.

Ketua Tim Pengabdian, Madyasta Anggana Rarassari , M.P menjelaskan, bahwa Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat berupa pelayanan kepada masyarakat, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan bidang keahliannya, peningkatan kapasitas masyarakat; atau pemberdayaan masyarakat . Dalam hal ini kegiatan yang telah berlangsung di desa pandan arang mengarah pada penerapan iptek dilingkungan masyarakat.

“Desa Pandan Arang merupakan suatu desa yang terdapat di Kabupaten Ogan Ilir yang memiliki potensial untuk dilakukan pengembangan bidang perikanan terutama dibidang budidaya ikan perairan tawar. Hal ini terbukti di desa tersebut sudah terdapat kelompok pembudidaya ikan khususnya ikan lele,” katanya.

Permasalahan yang sering dialami oleh pembudidaya ikan termasuk yang dihadapi oleh kelompok pembudidaya ikan di desa Pandan Arang saat ini semakin menyusutnya lahan budidaya sehingga menyebabkan budidaya lele harus dilakukan secara intensif. Budidaya ikan secara intensif merupakan budidaya menggunakan padat tebar dan dosis pakan yang tinggi.

Intensifikasi budidaya ikan selain memberikan keuntungan bagi pembudidaya juga mempunyai dampak negatif yaitu menimbulkan penurunan kualitas lingkungan. Hal ini menyebabkan tingginya buangan metabolit dan sisa pakan pada media budidaya sehingga terjadi penurunan kualitas air secara cepat. Oleh karena itu, Biofloc Technology (BFT) menjadi salah satu teknologi alternatif yang saat ini bisa diterapkan dan dikembangkan dalam akuakultur yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas air dan meningkatkan efesiensi pemanfaatan nutrisi.

“Teknologi bioflok menggunakan bakteri baik yang dapat mengonversi limbah organik secara intensif menjadi kumpulan mikroorganisme yang berbentuk flok, kemudian dapat dimanfaatkan oleh ikan sebagai sumber makanan. Bahan-bahan pembuatan probiotik starter untuk bioflok memanfaatkan bahan-bahan alami yang terdapat di masyarakat seperti nanas dan pisang ambon yang kemudian dicampur dengan bahan-bahan pendukung lainnya dan difermentasi hingga adanya aroma khas dengan bau seperti gas,” jelas Madyasta Anggana Rarassari., M.P.

Dia menambahkan selain itu juga akan dimulai diperkenalkan dan diaplikasikan produk berupa probiotik berupa mikroorganisme asal rawa yang sudah diisolasi di daerah Sumsel dan sudah sejak beberapa tahun ini sudah diteliti oleh Dr. Marini Wijanyanti, M.Si selaku anggota tim ini.

“Dari sini nantinya bisa kita lihat bersama hasil terbaik yang diberikan. Usai kegiatan pengabdian berupa penyuluhan nantinya tim pengabdian ini akan ada kegiatan lanjutan yaitu berupa pendampingan hingga produksi ikan lele. Setelah kegiatan pengabdian ini terlaksana diharapkan pembudidaya ikan di desa Pandan Arang dapat menerapkan budidya ikan lele menggunakan sistem bioflok. Sehingga keterbatasan lahan budidaya dan kualitas air tidak lagi menjadi kendala dalam kegiatan budidaya ikan lele,” pungkasnya. [yip]