PALEMBANG – Badan Pengatur Hulu (BPH) Migas mendorong program konversi dari solar ke Liquified Natural Gas (LNG) atau gas cair sebagai bahan bakar kereta api. Melalui konversi tersebut, BPH Migas ingin memangkas penggunaan solar subsidi oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang digunakan untuk operasional kereta.
Kepala BPH Migas, Fanshurullah mengatakan konsumsi solar subsidi untuk operasional kereta PT KAI tahun lalu mencapai 243 ribu kiloliter. Jumlah tersebut tentunya cukup besar. Sehingga, perlahan harus dikurangi dengan cara konversi ke bahan bakar alternatif.
“Kalau dialihkan buat masyarakat tentunya lebih baik lagi. Makanya, kami mendorong agar konversi bisa segera terealisasi,” ujar Fanshurullah belum lama ini.
Ia mengatakan rencana konversi sebenarnya sudah lama dirancang. Bahkan sudah ada penandatangan perjanjian kerjasama antara PT Pertamina dengan PT KAI selaku produsen LNG dan pengguna. “Perjanjiannya sudah sejak 2015 lalu. Nah, harapannya tahun ini bisa ditindaklanjuti dan ada progres yang lebih baik,” ungkapnya.
Ia menuturkan proses konversi nantinya akan dilakukan di Sumsel. Sebab, produksi LNG di Bumi Sriwijaya cukup besar. Selain itu, aktifitas pengangkutan dengan menggunakan kereta juga cukup banyak. Suplai LNG juga dapat dipasok dari Sumsel yang di regasifikasi dari pipa gas. Tinggal membangun storagenya saja di lokasi jalur kerata untuk pengisiannya,” bebernya.
Berdasarkan hasil uji coba, Fanshurullah menerangkan penggunaan LNG pada kereta dapat menurunkan penggunaan BBM hingga 71 persen. Di samping itu, harga LNG juga lebih murah ketimbang solar. “Jika menggunakan harga dunia, solar harganya sekitar 13 US Dollar/MMBPO. Sementara harga LNG hanya 6 US Dollar/MMBPO. Artinya sangat hemat untuk operasionalnya,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Sumsel H Herman Deru mengharapkan rencana tersebut dapat terealisasi. Sebab, selain dapat memberikan penghematan BBM subsidi juga lebih ramah lingkungan. “Selaku Gubernur, saya mendorong agar program ini bisa terealisasi. Karena lebih hemat dan ramah lingkungan. Ini selaras dengan program kita untuk mengurangi emisi gas buang. Dan juga ini hanya dilakukan di 5 negara di dunia. Salah satunya Indonesia dan Sumsel jadi percontohannya,” terangnya.
Selain itu, konversi yang dilakukan tidak perlu mengganti perangkat mesin ataupun mengganti keseluruhan jenis keretanya. “Dan juga untuk konversinya tidak perlu menggunakan peralatan yang ribet. Harapannya, rencana ini bisa segera terealisasi,” pungkasnya. (Ril)