Khabar.id- Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luar biasa bagi seluruh dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan data BPS pada pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata berkisar pada angka 5 persen.

Namun, ketika memasuki 20202 dan pandemi Covid-19, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan bahkan mengalami kontraksi hingga angka -5,32 persen pada Triwulan II 2020, bahkan menurun kembali pada Triwulan III menjadi sebesar -3,49 persen.

Pemberlakuan berbagai kebijakan dalam rangka mengatasi penyebaran atau upaya memutus rantai penyebaran Covid-19, mengakibatkan banyak kegiatan ekonomi yang mengalami kontraksi bahkan berhenti berproduksi, yang berdampak terjadinya peningkatan pengangguran, penurunan tingkat produktivitas individu maupun perusahaan, dan secara agregat meningkatkan jumlah penduduk miskin.

Ada begitu banyak permasalahan ekonomi dan sosial, untuk itu Laboratorium Aplikasi Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya bekerjasama dengan Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema: “Penyesuaian Dinamis dalam Transformasi Struktural dan Stagnasi Ekonomi Saat Pandemi Covid-19”, secara daring melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube guna mengurangi dan mencari solusi.

Economist Bank Mandiri, Dendi Ramdani, PhD. mengatakan, permasalahan current account defisit yang besar dialami oleh Indonesia, banyak sektor yang masih beraktifitas di bawah kapasitas sebelum pandemi, namun pada sektor mobilitas barang atau transportasi barang kinerjanya lebih baik dibandingkan sebelum periode pandemi Covid 19. “Kinerja kedua ini mendorong ekonomi,” katanya pada Webinar Nasional Webinar Nasional ini dipandu oleh Imelda, SE., M.S.E, Kepala Laboratorium Aplikasi dan Bisnis dan dibuka Dr Azwardi , Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ekonomi.

Selain itu, kata dia, program stimulus pemerintah sejak tahun 2020 di bidang kesehatan, perlindungan sosial, dan terkait mendorong unit usaha, diharapkan dapat menolong, dan mengurangi beban perusahaan.

Pokja Kebijakan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr. Ardi Adji membahas materi mengenai Penanggulangan Kemiskinan Ekstrim di Sumsel menyampaikan bahwa kemiskinan ekstrim merupakan kondisi dimana kesejahteraan masyarakat berada dibawah garis kemiskinan ekstrem.

Tingkat kemiskinan ekstrim Sumatera Selatan sebesar 5,5% lebih tinggi dibanding nasional sebesar 4%. Fokus pembangunan kesejahteraan sosial di Sumatera Selatan meliputi: Kemiskinan, Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Infrastruktur, dan Pemberdayaan. “Target penurunan kemiskinan ekstrem menjadi nol persen membutuhkan upaya extraordinary koordinasi lintas KL-lintas lapis pemerintah,” ucap dia.

Bahkan, kata dia, Presiden dan Wakil Presiden telah berkomitmen untuk mencapai target dalam percepatan penanggulangan kemiskinan ekstrem sebagai program prioritas, selanjutnya perlu ditindaklanjuti oleh KL dan Pemda.

Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya sekaligus Wakil Ketua Dewan Pengupahan Provinsi Sumsel

Dr. Yunisvita menyampaikan bahwa, masalah mendasar mengenai pengangguran menyangkut determinan pengangguran dan perilaku siklus pasar tenaga kerja.

“Ketika pengangguran meningkat diawali dari rendahnya pertumbuhan ekonomi yang di support dari sisi demand, akan berdampak ke kegiatan produksi, dan akhirnya adanya pengurangan permintaan tenaga kerja, dan mengakibatkan tren pengangguran cukup tinggi,” tukasnya. (Ril)