Khabar.id- Orangtuanya perlu tahu jika suara yang bisa saja terjadi pada anak bukanlah diare biasa. Bisa saja itu Rotavirus karena gejala yang paling umum dialami Si Kecil yang terinfeksi Rotavirus adalah diare.

Namun, implikasi infeksi Rotavirus tidak hanya sekadar diare saja, lho. Orangtua wajib tahu apa itu Rotavirus dan penyebab serta penambahannya agar anak tetap sehat.

Vaccine Medical Director, GlaxoSmithKline Indonesia, dr.Deliana Permatasari mengatakan Rotavirus bukankah diare pada anak hal yang biasa. Rotavirus adalah virus yang sangat menular yang menyebabkan diare. Ini adalah penyebab paling umum diare pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia, yang mengakibatkan lebih dari 215.000 kematian setiap tahunnya.

“Penjelasan sederhananya, Rotavirus adalah virusnya, sedangkan diare adalah gejala yang disebabkan oleh virus ini,” ujarnya dalam rilis yang diterima Tribun Sumsel, Senin (21/9/2020).

Dr Deliana mangatakan penularan Rotavirus melalui jalur fecal-oral, atau dari feses penderita yang tidak sengaja masuk ke mulut orang yang sehat.

Penularan Rotavirus sangat mudah dan seringnya terjadi tanpa Parents sadari, misalnya melalui kontaminasi air, makanan, minuman, dan benda-benda yang terkontaminasi di sekitar orangtua dan si Kecil.

“95 persen anak di seluruh dunia biasanya telah terinfeksi Rotavirus ketika mereka mencapai usia 5 tahun, dan sebagian besar infeksi pertama terjadi sebelum Si Kecil berusia 1 tahun,” tambahnya.

Infeksi rotavirus biasanya dimulai dalam dua hari setelah terpapar virus. Gejala awal dari infeksi Rotavirus adalah demam 40⁰C atau lebih tinggi dan muntah, diikuti oleh diare cair selama tiga hingga delapan hari.

Selain demam, diare cair dan muntah, gejala-gejala infeksi Rotavirus lainnya dapat berupa lesu, rewel, badannya terasa nyeri serta tanda-tanda dehidrasi, mulut kering, frekuensi buang air kecilnya sedikit atau tidak ada sama sekali, menangis tanpa air mata.

Si Kecil yang terinfeksi Rotavirus berat dapat mengalami muntah dan mengalami diare hingga 20 kali sehari, sehingga berpotensi menyebabkan dehidrasi berat. Untuk beberapa bayi, gejalanya sangat berat sehingga mereka harus dirawat di rumah sakit.

Dehidrasi menyebabkan lebih dari 90% kematian akibat diare yang infeksius.Dengan kondisi ini, jelas infeksi Rotavirus bukan sekadar diare biasa, sehingga lebih baik bersiaga dan melakukan tindakan pencegahan.

Pemberian ASI eksklusif, mencuci tangan, akses air bersih, sanitasi, dan kebersihan dapat membantu mencegah penyakit rotavirus, tetapi mungkin tidak cukup. Virus ini dapat bertahan hingga 2 bulan di luar tubuh manusia dan menyebar dari orang ke orang atau melalui permukaan yang terkontaminasi, termasuk mainan.

Disinfeksi kimia mungkin bisa menghambat penyebaran Rotavirus. Namun orangtua harus memperhatikan jenis atau kandungan disinfektan yang digunakan, dan permukaan apa saja yang bisa diberi disinfektan.

Penggunaan disinfektan juga harus mempertimbangkan keamanannya bagi kesehatan manusia dan lingkungan, kompatibilitas dengan permukaan yang akan didisinfeksi, kemudahan penyimpanan dan aplikasi, serta rentang kemampuannya membunuh kuman atau virus.

Sebagian besar kasus infeksi Rotavirus terjadi sebelum usia 1 tahun si kecil dilahirkan dengan sistem kekebalan yang dapat melawan sebagian besar kuman, tetapi ada beberapa penyakit mematikan yang tidak bisa mereka tangani. Itu sebabnya mereka membutuhkan vaksin untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka.

Sebuah survei menunjukkan bahwa 92% bayi yang dirawat di rumah sakit karena infeksi Rotavirus belum pernah divaksinasi dan kebanyakan orang tua tidak mengetahui tentang vaksinasi Rotavirus, padahal, diare rotavirus adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, Dan perlu diketahui juga, ada batas usia untuk pemberian vaksin Rotavirus.Setelah melewati usia tersebut, Si Kecil mungkin tidak lagi memenuhi syarat untuk vaksinasi Rotavirus.

Vaksin Rotavirus diberikan secara oral tidak disuntikkan, sehingga anak-anak tidak perlu takut menghadapi jarum suntik. Seperti pemberian vaksin lain, parents disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan profesional untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kapan waktu yang tepat untuk memberikan vaksin Rotavirus, jenis vaksin, dosis, dan tata cara pemberian vaksin, serta informasi lainnya mengenai vaksin Rotavirus.(uls)